filsafat dan filsafat ilmu

BAB I

PENDAHULUAN

Filsafat adalah meter scientarium atau induk ilmu pengetahuan. Filsafat disebut induk pengetahuan karena filsafatlah yang telah melahirkan segala ilmu yang ada. Jauh dari keinginan memuliakan dan mendewakan filsafat, kehadirannya yang terus menerus disepanjang sejarah peradaban manusia sejak kelahirannya sekitar 25 abad yang lalu telah memberikan kesaksian yang meyakinkan tentang betapa pentingnya filsafat bagi manusia.

Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah. Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan bidang-bidang yang ditelaah, yakni ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu sosial, dan tidak mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom. Ilmu memang berbeda dari pengetahuan-pengetahuan secara filsafat, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsip antara ilmu-ilmu alam dan sosial, dimana keduanya mempunyai ciri-ciri keilmuan yang sama.

Berbagai distorsi  dalam memahami  eksistensi  filsafat  dan hubungannya  dengan ilmu bisa saja terjadi  karena  desakan hegemoni ilmu  yang semakin otoriter  dan munculnya pola pemahaman  tentang hubungan  ilmu dan filsafat secara historis  dan subjektif. Seperti munculnya  fenomena  yang mengharuskan filsafat tunduk pada hukum-hukum ilmiah. Sebagai bagian dari ilmu, atau bahkan filsafat  mesti menjadi ilmu empiris sebagiman ilmu-ilmu lainnya. Fenomena ini bukan saja  dapat menghilangkan nilai historis hubungan  ilmu dan filsafat. Tetapi juga  memunculkan citra (image) negatif tentang otonomi  dan otoritas filsafat  sebgai salah satu aspek  terpenting pemikiran manusia.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat

1.      Etimologis

Philosohia (Yunani)   – Philos dari asal kata Philein     –  Suka, Cinta

– Sophia                                       –  kebijaksanaan

Jadi secara harfiyah filsafat berarti yang mencintai kebijaksanaan[13]

2.      Definisi Filsafat

a.       Ilmu yang berupaya untuk memahami hakikat alam dan realitas ada dengan mengandalkan akal budi.

b.      Ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni.

c.       Himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia.[14]

d.      Pemikiran yang mendalam, yang radikal tentang sesuatu[15]

B. Sifat Dasar Filsafat

1.    Berfikir Radikal

Yaitu berfikir secara mendalam untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan.

2.    Mencari Asas

Yaitu berupaya menemukan sesuatu yang menjadi esensi realitas. Dengan  menemukan esensi suatu realitas, realitas itu dapat diketahui dengan pasti dan jelas.

3.    Memburu Kebenaran

Kebenaran yang diburu adalah kebenaran yang hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat dipersoalkan. Kebenaran filsafat tidak pernah bersifat mutlak dan final, melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju kebenaran baru yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ditemukan itu juga terbuka untuk dipersoalkan kembali demi menemukan kebenaran yang lebih meyakinkan.

4.    Mencari Kejelasan

Salah satu penyebab lahirnya filsafat ialah keraguan. Untuk menhilangkan keraguan diperlukan kejelasan. Mengejar kejelasan berarti harus berjuang dengan gigih untuk mengeliminasi segala sesuatu yang tidak jelas, yang kabur, yang gelap, bahkan juga yang serba rahasia dan berupa teka teki.

5.    Berfikir Rasional

Berfikir secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan tidak mungkin berhasil dengan baiktanpa berfikir secara rasional. Berfikir secara rasional berarti berfikir secara logis, sistematis dan kritis.[16]

C. Cabang-Cabang Filsafat[17]

1.    Metafisika

Meta ta physica           – dibelakang benda fisik

Disebut juga dengan   – Proto philosophia

–  Firts philosophy

–  Filsafat pertama

Metafisika dibagi menjadi:

a.    Metafisika Umum               : Ontologi[18]

b.    Metafisika Khusus  , yang terdiri dari:

1)   Antropologi[19] – Filsafat Manusia

2)   Kosmologi[20] – Filsafat Alam

3)   Teologi Metafisik[21] – Filsafat Ketuhanan.

2.    Epistimologi

Epitimologi adalah suatu cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Secara tradisonal, yang menjadi pokok persoalan dalam epistimologi ialah sumber, asal mula, dan sifat dasar pengetahuan, bidang, batas, dan jangkauan pengetahuan serta validitas dan reabilitas, dari berbagai klaim terhadap pengetahuan,[22] dengan kata lain, epitimologi adalah membicaran sumber pengetahuan dan bagaimana memperoleh pengetahuan.[23] Ada beberapa pendapat tentang hal ini:

a.    Kaum Epirisme berpendapat bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya, tokohnya : Jhon Locke

b.    Kaum rasionalis berpendapat bahwa sarana dan sumber pengetahuan manusia adalah rasio/akal. Sedangkan pengalaman hanya bersifat mengukuhkan. Rene Descartes

c.    Kaum Positivisme berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen, tokohnya : August Comte

d.   Kaum Intuisionisme berpendapat bahwa indera terbatas, akal juga terbatas, dan yang dikembangkan oleh aliran ini adalah intuisi, tokohnya : Hendri Bergson.[24]

3.    Aksiologi

Istilah aksiologi berasal dari kata axios dan logos. Axios  artinya nilai atau sesuatu yang berharga sedangkan logos artinya akal, teori. Axiology artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria, dan status metafisik dari nilai.[25]

Problem utama Aksiologi  ujar runes berkaitan dengan empat faktor penting, yaitu:

a.       Kodrat nilai berupa problem mengenai: apakahnilai itu berasal dari keinginan (voluntarisme, Spinoza), kesenangan ( Hedonisme: Epicurus, bentham, Meinong), kepentingan (Perry), preferens ( Martineau), keinginan rasio murni (Kant), pemahaman mengenai kualitas tersier (Santayana), pengalaman sinoptik kesatuan kepribadian (Personalisme: Green), berbagai pengalaman yang mendorong semangat hidup (Nietzsche), relasi benda-benda sebagai sarana untuk mencapai tujuan atau konsekuensi yang sungguh-sungguh dapat dijangkau (Pragmatisme: Dewey).

b.      Jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan pandangan antara nilai intrinsik, ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-nilai instrumental yang menjadi penyebab (baik barang-batang ekonomis atau peristiwa-peristiwa alamiah) mengenai nilai-nilai intrinsik.

c.       Kriteria nilai artinya ukuran untuk menguji nilai yang dipengaruhi sekaligus oleh teori psikologis dan logika. Penganut hedonis menemukan bahwa ukuran nilai terletak pada sejumlah kenikmatan yang dilakukan oleh seseorang (Aristippus) atau masyarakat (bentham). Penganut intuisionis menonjolkan suatu wawasan yang paling akhir dalam keutamaan. Beberapa penganut idealist mengakui norma ideal sebagai kriteria (Plato). Seseorang penganut naturalist menemukan keunggulan biologi sebagai ukuran yang standar.

d.      Status metafisik nilai mempersoalkan tentang bagaimana hubungan antara nilai terhadap fakta-fakta yang diselidiki melalui ilmu-ilmu kealaman (Koehler), kenyataan terhadap keharusan (Lotzel) pengalaman manusia tentang nilai pada realitas kebebasdan manusia (Hegel). Ada 3 jawaban penting yang diajukan dalam persoalan status metafisika nilai yaitu:

–       Subyektivisme, nilai merupakan sesuatu yang terikat pada pengalaman manusia, seperti halnya: hedonisme, naturalisme, positivisme.

–       Objektivisme logis, hakikat atau subsistensi logis yang bebas dari keberadaannya yang diketahui, tanpa status eksitensial atau tindakan dalam realitas.

–       Objektivisme metafisik menganggapo bahwa nilai atau norma adalah integral, objektif dan unsur-unsur aktif kenyataan metafisik, seperti yang dianut oleh: Theisme, absolutisme, realisme. [26]

D. Pengertian Ilmu

Pengertian ilmu sepanjang yang terdapat dalam pustaka menunjuk pada sekurang-kurangnya tiga hal, yaitu:

1.      Ilmu sebagai Pengetahuan

Ilmu adalah kumpulan- kumpulan ayang disususn secara sistematis dari pengetahuan yang dihimpun tentang alam semesta yang melulu diperoleh melalui teknik-teknik pengamatan yang objektif.

2.      Ilmu sebagai Proses atau aktivitas

Ilmu merupakan proses penyelidikan yang berlangsung terus menerus.

3.      Ilmu sebagai metode

Ilmu adalah istilah yang dipergunakan untuk menyebut seatu metode guna memperoleh pengetahuan yang objektif dan dapat diperiksa kebenarannya.[27]

Kesatuan dan interaksi diantara aktivitas, metode dan pengetahuan yang boleh dikatakan menyusun diri menjadi ilmu dapatlah digambarkan dalam suatu bagan segitiga sebagai berikut:

METODE

PENGETAHUAN

Pemahan ilmu sebagai aktivitas, metode, dan pengetahuan dapat digambarkan sebagai berikut:

E. Pengertian Filsafat Ilmu

Ada beberapa pengertian tentang filsafat ilmu:

1.      Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secra sepesifik mengkaji hakikat ilmu (Pengetahuan Ilmiah).[28]

2.      Studi tentang metode, asumsi dan batas-batas ilmu pengetahuan.[29]

3.      Penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya.[30]

F. Substansi Telaah Filsafat Ilmu

Setidaknya ada empat substansi filsafat ilmu. Pertama tentang kenyataan, kedua tentang kebenaran, ketiga tentang tingkat kepastian, keempat tentang logika infrensi.

1.      Kenyataan atau Fakta

Bagi positivistik, yang nyata itu yang faktual ada, bagi rasionalistik, yang nyata ada itu yang ada dan cocok dengan akal, bagi realisme yang nyata itu yang riil exist dan terkonstruk dalam kebenaran obyektif, sedangkan bagi pendekatan phenomenologik, kenyataan itu terkonstruk dalam moral.

2.      Kebenaran

Bagi positivistivisme sesuatu itu benar bila ada korespodensi antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Bagi phenomenologi, phenomena baru dapat dinyatakan benar setalah diuji korespodensinyadengan yang dipercayakan. Realisme metafisik poper mengakui kebenaran bila ada faktual itu koheren dengan kebenaran objek unversal.sedangkan pragmatis mengakui kebenaran bial faktual berfungsi.

3.      Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probabilistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan landasan asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar.[31]

4.      Logika Infrensi[32]

Studi tentang tipe-tipe tata fikir. Logika Sintak dan Semantik berupaya untuk mempelajari fungsi kata, fungsi kalimat, dan pencarian makna. Logika konseptualisasi tradisional, logika tidak lain dari pada studi tentang relasi formal dan jenis.[33]

G. Cabang-Cabang Utama Filsafat Ilmu

1.      Ontologi

Objek telaahnya adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi pada filsafat umumnya dilakukan oleh filsafat methafisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.[34] Sedangkan metode pembuktian dibedakan menjadi dua yaitu: pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.

Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat, dan kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologik term tengah ada setelah sesudah realitas kesimpulan, term tengah menunjukan akibat realitas yang dinyatakan dalma kesimpulan.[35] Secara umum a priori dikenal dengan cara berfikir dan car pembuktian deduktif, sedangkan empiri sebagai konsekuensi, dan a posteriori dikenal dengan cara berfikir dan cara membuat kesimpulan yang mendasarkan pada empiri.

2.      Epistimologi

Epistimologi ini dapat digolongkan ke dalam empat bagian. Pertama ke epistimologi subyetif, kedua epistimologi pragmatik, ketiga, epitomologi moral dan yang keempat epitimologi relegius. [36] Kebenran-kebenaran yang ditampilkan berupa tesis atau teori yang bersifat kondisional.

3.      Aksiologi

Ada empat jenis value. Pertama, value sensual, dalam tampilan seperti menyanangkan dan tak menyenangkan. Kedua, nilai hidup, seperti edel (agung) atau gemein (biasa). Ketiga, nilai kejiwaan, nilai aetetis, nilai benar-salah, dan nilai intrinstik ilmu. Keempat, nilai relegius, seperti suci, yang sakral.

H. Objek Material dan Formal Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu sebagaimana halnya dengan bidang ilmu yang lain, juga memiliki objek material dan objek formalnya sendiri.

1.      Objek material atau pokok bahasan filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu ilmu yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu. Sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.

2.      Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan. Artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar ilmu pengetahuan,[37] seperti: apa hakikat ilmu itu sesungguhnya? Bagaimana memperoleh kebenaran ilmiah? Apa fungsi ilmu pengetahuan itu bagi manusia?

I. Tujuan dan Implikasi Filsafat Ilmu

1.      Tujuan filsafat ilmu

a.    Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah.

b.    Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan.

c.    Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertangung jawabkan secara logis-rasioanal, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.[38]

J. Implikasi Mempelajari Filsafat Ilmu

1.      Bagi seorang yang mempelajari filsafat ilmu diperlukan pengetahuan dasar yang memadai tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, supaya ilmuan memiliki landasan berpijak yang kuat. Ini berarti ilmuan sosial perlu mempelajari ilmu-ilmu kealama secara garis besar, demikian pula sebaliknya. Sehingga antara ilmu satu dan ilmu lainnya saling menyapa. Bahkan dimungkinkan terjalinnya kerja sama yang harmonis untuk memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan.

2.      Menyadarkan ilmuan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading” yakni hanya berfikir murni dalam bidangnya tanpa mengaitkan dengan kenyataan yang ada diluar dirinya. Padhal setiap aktivitas keilmuan nyaris tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan sosial masyarakat.[39]

K. Priodesasi Perkembangan Filsafat dan Ilmu

Untuk priodesasi perkembangan filsafat dan ilmu pemakalah meringkas menjadi point-point saja, yaitu:

1.      Pra Yunani Kuno (Abad 15 SM-6 SM)

a.    Pengetahuan berdasarkan pengalaman langsung

b.    Pengetahuan berhubungan dengan kekuatan magis

c.    Fenomena alam dijelaskan dengan mitologi

2.      Yunani Kuno (Abad 6 SM-6M)

a.    Munculnya sikap kritis dan logis

b.   Bebas mengemukakan ide

c.    Fenomena alam dijelaskan dengan rasional

d.   Filsafat identik dengan ilmu

3.      Abad Pertengahan (Abad 6 M-14 M)

a.    Dominasi teologi (gereja) atas filsafat/ ilmu

b.   Temuan ilmiah diakui selama tidak bertentangan dangan dogma gereja

c.    Tidak bebas mengemukakan ide

4.      Renaissan (Abad 14 M-16M)

a.    Kelahiran kembali kebebasan berfikir

b.   Sekuralisme ilmu, pemisah antara agam dan ilmu

5.      Modern (Abad 17 M-19 M)

a.    Ilmu memisahkan diri dari filsafat

b.   Ilmu alam maju pesat

c.    Ilmu pasti (matematika) sebagai basis ilmu-ilmu

6.      Kontemporer

a.    Ilmu-ilmu spesialis berkembang pesat

b.   Teknologi sebagai aplikasi ilmu berkembang pesat

c.    Filsafat sebagai ilmu interdisipliner[40]


7.

BAB III

KESIMPULAN

Ketiga bidang utama filsafat, metafisika (khusunya ontologi), epistimologi dan aksiologi merupakan landasan pengembangan ilmu pengetahuan. Landasan ontologi ilmu berkaitan dengan hakikat ilmu, ilmu mengkaji realitas sebagaimana adanya. Landasan epistimologis ilme berkaitan dengan aspek-aspek metodolegis ilmu dan saran berfikir ilmiah lainnya. Sedangkan landasan aksiologis ilmu berkaitan dengan dampak ilmu bagi manusia.

Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti:

ü  Obyek apa yang ditelaah ilmu ? (Ontologis)

ü  Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan berupa ilmu? (epistemologis)

ü  Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu digunakan ? (aksiologis)

Filsafat ilmu sebagaimana halnya dengan bidang-bidang yang lain, juga memiliki objek material dan objek formalnya sendiri. Objek materialnya atau pokok bahasan filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu. Sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.  Filsafat ilmu diperlukan kehadirannya ditengah-tengah perkembangan iptek yang ditandai semakin menajamnya spesialisasi ilmu pengetahuan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmu, maka kita akan menyadari keterbatasan diri kita dan tidak terperangkap ke dalam sikap arogansi intlektual.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Theles Sampai Capra, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005

Beerling, Kwee, Mooij Van Peursen, Pengentar Filsafat Ilmu, terjemahan, Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2003

Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Kanisius,1996

Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1984

Mark B. Wood House, Berfilsafat: Sebuah Langkah Awal, terjemahan, Yogyakarta:Kanisius, 2000

Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu; Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998

Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009

The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta:Liberty, 2007


[13] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius,1996), hal. 14

[14] Ibid, hal. 15

[15] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum:Akal dan Hati Sejak Theles Sampai Capra, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 18

[16] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, hal. 21-24

[17] Ibid,hal. 44-51

[18] Metafisik umum atau ontologi adalah membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan itu dilakukan dengan membedakan dan memisahkan eksistensi yang sesungguhnya dari penampakan atau penampilan dari eksistensi itu.( Ibid, hal.45)

[19] Filsafat Antropologi adalah bagian dari metafisika khusus yang mempersoalkan apakah manusia itu?apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasi-relasinya.(Ibid, hal. 50)

[20] Kosmologi adalah percakapan tentang dunia atau alam dan ketertiban yang paling fundamental dari seluruh realitas. Kosmologi memandang alam sebagai suatu totalitas dari fenomena dan berupaya untuk memadukan spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah dalam suatu kerangka yang koheren. Hal-hal yang biasa disoroti ialah mengenai ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan, dan keabadian.(Ibid,, hal.46)

[21] Teologi Metafisik mempersoalkan eksistensi yang dibahas secara terlepas dari kepercayaan agama. Allah menjadi sistem filsafat yang perlu dianalisis dan dipecahkan lewat metode ilmiah.(Ibid, hal.47)

[22] Ibid, hal. 37

[23] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum:Akal dan Hati Sejak Theles Sampai Capra, hal. 23

[24] Ibid, hal. 24-28

[25] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 26

[26] Ibid, hal. 27-28

[27] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 2007), hal. 86-88

[28]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Sinar Harapan, 1984), hal.33

[29]Mark B. Wood House, Berfilsafat: Sebuah Langkah Awal, terjemahan, (Yogyakarta:Kanisius, 2000), hal.35

[30]Beerling, Kwee, Mooij Van Peursen, Pengentar Filsafat Ilmu, terjemahan, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2003), hal. 1

[31]Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu; Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), hal. 9-11

[32]Infrensi dapat diterjemahkan dengan kata ramalan atau prediksi (Lihat Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, hal. 5)

[33] Ibid, hal. 19

[34] Ibid, hal. 49

[35] Ibid, hal.50

[36]Epistimologi subyektif memberikan implikasi pada standar rasional tentang hal-hal yang diyakini. Menggunakan standar rasional berarti bahwa sesuatu yang diyakini sebagai benar itu tentunya memiliki sifat reabel, ajeg. Bila ajeg sebagai standar maka para reabilis itu pada hakikatnya adalah obyektivis. Sebaliknya karena yang diyakini benar tersebut perlu terolah secara reflektif maka sifatnya kembali subyektif. Epistimologi pragmatik, pencarian yang kekal hendaknya diganti dengan pencermatan realistik mengkeritik ide palsu, diganti dengan pencermatan eksperimental dan empirik, menggunakan mean mencari ends untuk selanjutanya ends mencari means. Epistimologi moral, menelaah evaluasi estimik tentang keputusan moral dan teori-teori moral. Epistimologi relegius, berkembang pada dataran relegius sehari-hari, dan berupaya untuk membuat penafsiran kitab suci untuk memperoleh tuntunan terpercaya, sementara itu ada pula yang memfokuskan pada eksistensi Tuhan, penciptaan alam semesta, dan kerasulan. (Ibid, hal. 54-55)

[37]Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat ilmu, hal. 44 – 45

[38] Ibid, hal. 51-52

[39] Ibid, hal. 53

[40] Baca Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat ilmu, hal. 126-135

Iklan

Tentang kangmasandi

asik terus sampai mampus
Pos ini dipublikasikan di artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s