pendidikan penyangga peradaban bangsa

BAB I

PENDAHULUAN

Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungsi sekligus: pertama, menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan tertentu dalam masyarakat mendatang.  Kedua, mentransfer pengetahuan yang sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi keberlangsungan hidup masyarakat dan peradaban.[1] Sehingga bisa dikatakan bahwa pendidikan bukan hanya berfungsi sebagai tranfer of knowladge saja, tetapi juga sebagai tranfer of value. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasioanal No.20 tahun 2003:

“Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta mempunyai rasa tanggung jawab”.[2]

Masyarakat memandang pendidikan sebagai pewarisan kebudayaan atau nilai-nilai budaya baik yang bersifat intlektual, keterampilan, keahlian dari generasi tua ke generasi muda agar masyarakat tersebut dapat memelihara kelangsungan hidupnya atau tetap memelihara keperibadiannya. Dari segi pandangan invidu pendidikan berarti upaya pengembangan potensi-potensi yang dimiliki individu yang masih terpendam agar dapat teraktualisasikan  secara komplit,  sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh individu tersebut dan juga masyarakat.

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan mempunyai fungsi ganda. Pada satu sisi pendidikan berfungsi untuk memindahkan nilai-nilai dalam upaya memelihara kelangsungan hidup suatu masyarakat dan peradaban, sedangkan di sisi lain pendidikan berfungsi untuk mengaktualisasikan fitrah manusia agar dapat hidup secara optimal, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dan mampu memikul tanggung jawab atas perbuatannya, sehingga memperoleh kebahagiaan dan kehidupan yang sempurna.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Makna Pendidikan

Menurut Bucbacher sebagaimana dikutip oleh Musheri dalam bukunya pengantar pendidikan, pendidikan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk mengembangkan dan memfungsionalkan rohani (pikir, rasa, cipta dan budi nurani) manusia, dan jasmani (panca indera dan keterampilan-keterampilan) manusia agar meningkat wawasan pengetahuannya, bertambah trampil sebagai bekal keberlangsungan hidup dan kehidupannya disertai akhlak mulia dan mandiri di tengah masyarakat.[3]

Dengan demikian, pendidikan pada hakekatnya adalah pemberian bantuan atau pertolongan dari seseorang kepada orang lain secara sadar dan terencana dengan menerapkan lima asas: kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, dan kemanusiaan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang dapat mengaktifkan potensi dari peserta didik guna perkembang dan meningkatkan kemampuan dan kecakapan rohani ( pikir, rasa, cipta, dan budi nurani ) agar yang bersangkutan memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.[4]

Pendidikan nasional sendiri berfungsi mengambangkan kemampuan dan membentuk watak serta perdaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.[5] Melalui pendidikan manusia dikembangkan kemampuannya, baik jasmani dan rohaninya, wataknya dibentuk menjadi pribadi yang matang dan dewasa, serta peradaban bangsa terbangun secara bermartabat sesuai kemajuan jaman dalam upaya pencerdasan bangsa.

Menurut Hujair AH. Sanaky, dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya, sekalipun dalam masyarakat yang masih terbelakang (primitif). Pendidikan sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa tentu memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan rekayasa bangsa di masa mendatang, karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan asasi manusia, bahkan M. Natsir menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan maju mundurnya kehidupan masyarakat tersebut.[6]

B. Makna Perdaban Bangsa

Kebudayaan atau perdaban ialah suatu keseluruhan yang kompleks yang meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan sikap kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai warga masyarakat.[7]

Konsep dari “peradaban” digunakan sebagai sinonim untuk “budaya (dan sering moral) Keunggulan dari kelompok tertentu.” Dalam artian yang sama, peradaban dapat berarti “perbaikan pemikiran, tata krama, atau rasa”. “Peradaban” dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya (peradaban manusia atau peradaban global). Istilah peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya.

C. Pendidikan Sebagai Penyangga Peradaban Bangsa

Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya pewarisan nilai, yang akan menjadi penolong dan menuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan perdaban umat manusia. Tanpa pendidikan maka diyakini manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi masa lampau yang dibanding dengan manusia masa sekarang jelas sangat tertinggal baik kualitas kehidupan maupun proses-proses merancang masa depannya. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, maju mundurnya baik buruknya beradaban suatu bangsa atau masyarakat akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tertentu.[8] Dalam kontek ini, maka kemajuan peradaban yang dicapai umat manusia dewasa ini sudah barang tentu tidak terlepas dari peran-peran pendidikannya. Dengan demikian pendidikan merupakan tumpuan setiap bangsa dan meraih masa depannya.

Sebelum mengulas makna kebudayaan nasional dan selanjutnya peradaban bangsa, terlebih dahulu pemakalah akan mencoba mengulas arti kebudayaan, atau “culture” Talcot Parson mengartikan kebudayaan sebagai “ways of acting and ways of orienting” . Sedangkan Komisi Kebudayaan UNESCO mengartikan “A culture as the total and distinctive ways of life of a people and society”. Mangunwijaya mengartikan “kebudayaan sebagai seluruh totalitas aktivitas serta galaksi pengetahuan seluruh ikhtiar manusia untuk menjawab tantangan kehidupannya, mengolahnya, dan memberi makna kepadanya, penyegaran dirinya secara integral, baik dalam karya nyata maupun pembalasan simbolisnya”.

Ditinjau dari makna kebudayaan pada umumnya dan kebudayaan nasional pada khususnya seperti yang telah diulas dalam kaitan ini, dalam pandangan penulis adalah hasil seluruh upaya rakyat bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan, memecahkan masalah sehingga secara keseluruhan merupakan kesatuan cara pandang, cara untuk memecahkan masalah baik politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam kaitan ini penulis memandang bahwa nilai-nilai budaya hakekatnya ada yang fungsional dan ada yang telah menjadi ornamental yang perlu dipelihara. Puncak-puncak budaya daerah yang merupakan bagian kebudayaan nasional pada umumnya tidak tergolong fungsional tetapi perlu tetap dipelihara. Sedangkan yang fungsional perlu terus dikembangkan.

Pertanyaan berikutnya adalah “Apa hubungan antara kebudayaan dan peradaban?” Menjawab pertanyaan ini penulis pertama akan merujuk kepada pandagan Cohen yang menyatakan : “A civilization represent a distinct level of sosiocultural integration and thus a unique cultural historical entity; it is more than the sum of culture”.

Dari kutipan tersebut nampak betapa peradaban hakekatnya lebih luas daripada kebudayaan, dan bahkan bukan semata-mata kumpulan kebudayaan melainkan merupakan suatu integrasi berbagai kebudayaan. Karena itu kita mengenal istilah budaya politik, budaya ekonomi, budaya IPTEK, disamping seni budaya dan adat istiadat. Berangkat dari pengertian tentang peradaban seperti yang diulas, makna “membangun peradaban bangsa” adalah suatu tujuan mensintesakan dan mengintegrasikan berbagai dimensi budaya seperti yang disinggung menjadi suatu sistem nilai yang terintegrasi baik politik, ekonomi, sosial, maupun iptek yang secara dinamis terus berkembang yang menjadi ciri hakiki dari bangsa Indonesia yang mampu menghadapi berbagai tantangan, baik tantangan dalam maupun tantangan lain yang telah mengglobal. Suatu peradaban yang menjadi Bangsa Indonesia cerdas kehidupannya, yaitu Negara Indonesia yang modern dan maju, dengan infrastruktur fisik, infrastruktur teknologi, dan infrastruktur sumber daya manusia yang handal, yang demokratis, yang sejahtera, dan berkeadilan sosial yang menjunjung tinggi HAM berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Untuk membangun peradaban bangsa yang berdampak kepada kehidupan bangsa yang cerdas, diperlukan manusia yang memiliki kemampuan (intelektual, dan vokasional / professional) dan berkarakter (berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki rasa tanggung jawab, dan demokratis). Untuk itulah diperlukan suatu proses pendidikan yang bermakna proses pembudayaan kemampuan, nilai, dan sikap.

Membangun peradaban sebuah bangsa pada hakikatnya adalah pengembangan watak dan karakter manusia unggul dari sisi intelektual, spiritual, emosional, dan fisikal yang dilandasi oleh fitrah kemanusiaan. Fitrah adalah titik tolak kemuliaan manusia, baik sebagai bawaan seseorang sejak lahir atau sebagai hasil proses pendidikan.

Fungsi pendidikan menurut UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada TUHAN Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggungjawab.[9]

Adapun kriterianya adalah:

1.      Pendidikan hendaknya ditekankan untuk membangun manusia dan masyarakat Indonesia yang beradab, yang mempunyain indentitas, berdasarkan budaya bangsa.

Untuk mencapai perlu didasarkan pada paradigma-paradigama baru yang bertujuan untuk membentuk suatu masyarakat madani yang dekokratis. Pendidikan harus bertolah dari pengembangan manusia yang berbudaya dan berperadaban, merdeka bertaqwa, bermoral dan berakhlak, berpengatahuan dan berketrampilan, inovatif dan kompotitif sehingga dapat berkarya secara profesional dalam kehidupan global.[10]

2.      Pendidikan diarahkan kepada kemandirian

Hakikat kemandirian adalah kemampuan peserta didik membuat keputusan bagi diri sendiri. Kemandirian berarti memperhitungkan semua faktor yang relevan dalam menentukan arah tindakanyang terbaik bagi semua yang berkepentingan, tidak ada ukuran baik buruk kalau orang hanya memertimbangkan pandangan sendiri.[11]

3.      Pendidikan diarahkan untuk  membentuk watak peradaban sebuah bangsa yang beradab dan bermartabat.

Yusuf al-Qardlawi mengatakan peradaban adalah akumulasi fenomena kemajuan materi, keilmuan, seni, sastra, dan sosial pada suatu kelompok masyarakat, atau pada beberapa masyarakat yang mempunyai kesamaan.[12] Masyarakat Indonensia adalah masyarakat yang majemuk namun mempunyai kesamaan yaitu bangsa dan Negara yang berKetuhanan Yang Maha Esa. Falsafah peradaban bangsa Indonesia mengandung unsur-unsur transendensi sebagai nilai-nilai bangsa yang berbudaya dan beradab., bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Dan untuk membangun peradaban bangsa yang beradab diperlukan entitas social yang terdidik sebagai subyek perubahannya. Manusia yang terdidik adalah mereka yang berilmu pengetahuan (knowledgeable), bertanggung jawab (responsible), penyayang (caring) dan tidak kasar (nonviolent).[13]

4.      Meningkatkan Profesionalisme Guru

Dalam konteks pembangunan sektor pendidikan, guru merupakan pemegang peran yang amat sentral dalam proses pendidikan. Karena itu, upaya meningkatkan profesionalisme para pendidik adalah suatu keniscayaan. Guru harus mendapatkan program-program pelatihan secara tersistem agar tetap memiliki profesionalisme yang tinggi dan siap melakukan adopsi inovasi. Guru juga harus mendapatkan penghargaan dan kesejahteraan yang layak atas pengabdian dan jasanya. Sehingga, setiap inovasi dan pembaruan dalam bidang pendidikan dapat diterima dan dijalaninya dengan baik.

5.      Sifat pendidikan harus bersifat fungsional yaitu berfungsi untuk kepentingan kelembagaan masyarakat menuju perkembangan kehidupan bangsa yang menyangkut pengembangan pribadi dan watak bangsa.[14]

Secara mendasar pengembangan bangsa tersebut dapat dilihat dan difahami melalui proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia sedangkan pancasila dan pembukaan UUD 1945 merupakan pandangan hidup, keperibadian dan tujuan hidup nasional. Sedangkan penjabaran secara konstitusionalnya dapat dilihat UUD 1945 dalam rangka mewujudkan cita-cita nasional. Dari keseluruhan tersebut hanya dapat diwujudkan secara konkrit dengan usaha pembangunan nasional baik lahir maupun batin. Itulah semua yang menjadikan amanat bangsa Indonesia untuk mengembangkan bangsanya, terutama melalui pendidikan nasional. Pengembangan sumberdaya manusia adalah yang paling penting dan utama jika dibandingkan dengan pengembangan sumber daya alam demi pembangunan bangsa,[15] meskipun keduanya saling berkaitan. Maka pengembangan sumber daya manusia pada hakekatnya adalah proses kebudayaan.

Oleh karena itu pembangunan manusia seutuhnya perlu diwujudkan dengan sebaik-baiknya sehingga diperlukan pendektan-pendekatan yang baik. Untuk itu pendekatan yang dipakai dalam pendidikan nasional guna pengembangan kebudayaan adalah pendekatan kultural.[16] Pendidikan kultural ini harus memperhatikan perkembangan sejarah dan kemajuan bangsa, dengan memperhatikan ruang lingkup, baik secara nasional maupun internasional.

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Pendidikan adalah jantung peradaban dalam sebuah negara-bangsa. Manusia, siapa pun orangnya secara filosofis disebut sebagai animal educandum, yakni individu yang terus-menerus dididik dan mendidik. Ini artinya, proses pendidikan merupakan sebuah ikhtiar yang tanpa henti. Pendidikan dalam hidup memegang peranan penting guna memajukan peradaban. Untuk pencapaian itu mayarakat harus mencapai tingkat kedewasaan, dalam artian dapat menyelesaikan berbagai masalah kehidupan, sehingga mampu memacu perkembangan peradaban. Maka bukan sekedar mengetahui pengetahuan yang sudah ada, akan tetapi juga mampu mengembangkan dan menciptakan pengetahuan baru. Jika kondisi ideal tersebut dapat dicapai maka pendidikan akan bisa mengambil peranan yang cukup besar dalam pembangunan peradaban bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

AH. Sanaky, Hujair. Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta: Safiria Insania Pres, 2003

 

Ahmadi Abu,  dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 2001

 

Al-Qardlawi, Yusuf. Sunnah, Ilmu pengetahuan, dan Peradaban, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogyakarta, 2001

 

http://www.ponpeskarangasem.com/index.php?option=com_content&view=article&id=215:pendidikan-sebagai-pilar-dasar-peradaban-bangsa&catid=67:artikel-kiriman&Itemid=93

 

Langgulung, Hasan.  Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, Bandung: Al- Ma’arif, 1980

 

Muhdi Amnur, Ali. Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional,  Yogyakarta:  Pustaka Fahima, 2007

 

Musheri, Pengantar Pendidikan, Jogjakarta: IRCiSoD, 2007

 

Noor Syam, Mohammad. Filsafat Pendidikan Dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Surabaya: Usaha Nasional, 1998

 

Pellokila,Japppy. Tantangan Dunia Pendidikan Di Indonesia, http://edukasi.kompasiana.com

 

Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung: Citra Umbara, 200

 

 

 


[1] Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, (Bandung: Al- Ma’arif, 1980), hal. 92

[2] Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Umbara, 2003), hal. 7

[3] Musheri, Pengantar Pendidikan, ( Jogjakarta: IRCiSoD, 2007), hal. 48

[4] Ibid, hal. 49

[5] Ibid, hal. 50

[6] Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Safiria Insania Pres, 2003), hal. 4

[7] Mohammad Noor Syam, Filsafat Pendidikan Dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, (Surabaya: Usaha Nasional, 1998), hal. 61

[8] Ali Muhdi Amnur, Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional,  ( Yogyakarta:  Pustaka Fahima, 2007 ), hal. 17

[9] Japppy Pellokila, Tantangan Dunia Pendidikan Di Indonesia, http://edukasi.kompasiana.com. Dikases tanggal 9 November 2010

[10] Hujair AH, Sanaky, paradigma pendidikan Islam hlm.10

[11] Ali Muhdi Amnur, Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional, hal. 60

[12] Yusuf al-Qardlawi, Sunnah, Ilmu pengetahuan, dan Peradaban, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogyakarta, 2001), hal.292.

[14] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, ( Jakarta, Rineka Cipta, 2001 ), hal. 205

[15] Ibid, hal. 206

[16] Pendekatan Kultural yaitu usaha-usaha mengadakan perubahan-perubahan menuju kepada keadaan yang lebih baikdengan tetap menjaga keseimbangan baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, manusia dengan sekitarnya yang berhubungan dengan alam, dengan bangsa atau negara lain, dengan tuhannya untuk menjangkau kemajuan lahir dan batin. Ibid, hal. 206

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

filsafat dan filsafat ilmu

BAB I

PENDAHULUAN

Filsafat adalah meter scientarium atau induk ilmu pengetahuan. Filsafat disebut induk pengetahuan karena filsafatlah yang telah melahirkan segala ilmu yang ada. Jauh dari keinginan memuliakan dan mendewakan filsafat, kehadirannya yang terus menerus disepanjang sejarah peradaban manusia sejak kelahirannya sekitar 25 abad yang lalu telah memberikan kesaksian yang meyakinkan tentang betapa pentingnya filsafat bagi manusia.

Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah. Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan bidang-bidang yang ditelaah, yakni ilmu-ilmu alam atau ilmu-ilmu sosial, dan tidak mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom. Ilmu memang berbeda dari pengetahuan-pengetahuan secara filsafat, namun tidak terdapat perbedaan yang prinsip antara ilmu-ilmu alam dan sosial, dimana keduanya mempunyai ciri-ciri keilmuan yang sama.

Berbagai distorsi  dalam memahami  eksistensi  filsafat  dan hubungannya  dengan ilmu bisa saja terjadi  karena  desakan hegemoni ilmu  yang semakin otoriter  dan munculnya pola pemahaman  tentang hubungan  ilmu dan filsafat secara historis  dan subjektif. Seperti munculnya  fenomena  yang mengharuskan filsafat tunduk pada hukum-hukum ilmiah. Sebagai bagian dari ilmu, atau bahkan filsafat  mesti menjadi ilmu empiris sebagiman ilmu-ilmu lainnya. Fenomena ini bukan saja  dapat menghilangkan nilai historis hubungan  ilmu dan filsafat. Tetapi juga  memunculkan citra (image) negatif tentang otonomi  dan otoritas filsafat  sebgai salah satu aspek  terpenting pemikiran manusia.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat

1.      Etimologis

Philosohia (Yunani)   – Philos dari asal kata Philein     –  Suka, Cinta

– Sophia                                       –  kebijaksanaan

Jadi secara harfiyah filsafat berarti yang mencintai kebijaksanaan[13]

2.      Definisi Filsafat

a.       Ilmu yang berupaya untuk memahami hakikat alam dan realitas ada dengan mengandalkan akal budi.

b.      Ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni.

c.       Himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia.[14]

d.      Pemikiran yang mendalam, yang radikal tentang sesuatu[15]

B. Sifat Dasar Filsafat

1.    Berfikir Radikal

Yaitu berfikir secara mendalam untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan.

2.    Mencari Asas

Yaitu berupaya menemukan sesuatu yang menjadi esensi realitas. Dengan  menemukan esensi suatu realitas, realitas itu dapat diketahui dengan pasti dan jelas.

3.    Memburu Kebenaran

Kebenaran yang diburu adalah kebenaran yang hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat dipersoalkan. Kebenaran filsafat tidak pernah bersifat mutlak dan final, melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju kebenaran baru yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ditemukan itu juga terbuka untuk dipersoalkan kembali demi menemukan kebenaran yang lebih meyakinkan.

4.    Mencari Kejelasan

Salah satu penyebab lahirnya filsafat ialah keraguan. Untuk menhilangkan keraguan diperlukan kejelasan. Mengejar kejelasan berarti harus berjuang dengan gigih untuk mengeliminasi segala sesuatu yang tidak jelas, yang kabur, yang gelap, bahkan juga yang serba rahasia dan berupa teka teki.

5.    Berfikir Rasional

Berfikir secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan tidak mungkin berhasil dengan baiktanpa berfikir secara rasional. Berfikir secara rasional berarti berfikir secara logis, sistematis dan kritis.[16]

C. Cabang-Cabang Filsafat[17]

1.    Metafisika

Meta ta physica           – dibelakang benda fisik

Disebut juga dengan   – Proto philosophia

–  Firts philosophy

–  Filsafat pertama

Metafisika dibagi menjadi:

a.    Metafisika Umum               : Ontologi[18]

b.    Metafisika Khusus  , yang terdiri dari:

1)   Antropologi[19] – Filsafat Manusia

2)   Kosmologi[20] – Filsafat Alam

3)   Teologi Metafisik[21] – Filsafat Ketuhanan.

2.    Epistimologi

Epitimologi adalah suatu cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Secara tradisonal, yang menjadi pokok persoalan dalam epistimologi ialah sumber, asal mula, dan sifat dasar pengetahuan, bidang, batas, dan jangkauan pengetahuan serta validitas dan reabilitas, dari berbagai klaim terhadap pengetahuan,[22] dengan kata lain, epitimologi adalah membicaran sumber pengetahuan dan bagaimana memperoleh pengetahuan.[23] Ada beberapa pendapat tentang hal ini:

a.    Kaum Epirisme berpendapat bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya, tokohnya : Jhon Locke

b.    Kaum rasionalis berpendapat bahwa sarana dan sumber pengetahuan manusia adalah rasio/akal. Sedangkan pengalaman hanya bersifat mengukuhkan. Rene Descartes

c.    Kaum Positivisme berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen, tokohnya : August Comte

d.   Kaum Intuisionisme berpendapat bahwa indera terbatas, akal juga terbatas, dan yang dikembangkan oleh aliran ini adalah intuisi, tokohnya : Hendri Bergson.[24]

3.    Aksiologi

Istilah aksiologi berasal dari kata axios dan logos. Axios  artinya nilai atau sesuatu yang berharga sedangkan logos artinya akal, teori. Axiology artinya teori nilai, penyelidikan mengenai kodrat, kriteria, dan status metafisik dari nilai.[25]

Problem utama Aksiologi  ujar runes berkaitan dengan empat faktor penting, yaitu:

a.       Kodrat nilai berupa problem mengenai: apakahnilai itu berasal dari keinginan (voluntarisme, Spinoza), kesenangan ( Hedonisme: Epicurus, bentham, Meinong), kepentingan (Perry), preferens ( Martineau), keinginan rasio murni (Kant), pemahaman mengenai kualitas tersier (Santayana), pengalaman sinoptik kesatuan kepribadian (Personalisme: Green), berbagai pengalaman yang mendorong semangat hidup (Nietzsche), relasi benda-benda sebagai sarana untuk mencapai tujuan atau konsekuensi yang sungguh-sungguh dapat dijangkau (Pragmatisme: Dewey).

b.      Jenis-jenis nilai menyangkut perbedaan pandangan antara nilai intrinsik, ukuran untuk kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-nilai instrumental yang menjadi penyebab (baik barang-batang ekonomis atau peristiwa-peristiwa alamiah) mengenai nilai-nilai intrinsik.

c.       Kriteria nilai artinya ukuran untuk menguji nilai yang dipengaruhi sekaligus oleh teori psikologis dan logika. Penganut hedonis menemukan bahwa ukuran nilai terletak pada sejumlah kenikmatan yang dilakukan oleh seseorang (Aristippus) atau masyarakat (bentham). Penganut intuisionis menonjolkan suatu wawasan yang paling akhir dalam keutamaan. Beberapa penganut idealist mengakui norma ideal sebagai kriteria (Plato). Seseorang penganut naturalist menemukan keunggulan biologi sebagai ukuran yang standar.

d.      Status metafisik nilai mempersoalkan tentang bagaimana hubungan antara nilai terhadap fakta-fakta yang diselidiki melalui ilmu-ilmu kealaman (Koehler), kenyataan terhadap keharusan (Lotzel) pengalaman manusia tentang nilai pada realitas kebebasdan manusia (Hegel). Ada 3 jawaban penting yang diajukan dalam persoalan status metafisika nilai yaitu:

–       Subyektivisme, nilai merupakan sesuatu yang terikat pada pengalaman manusia, seperti halnya: hedonisme, naturalisme, positivisme.

–       Objektivisme logis, hakikat atau subsistensi logis yang bebas dari keberadaannya yang diketahui, tanpa status eksitensial atau tindakan dalam realitas.

–       Objektivisme metafisik menganggapo bahwa nilai atau norma adalah integral, objektif dan unsur-unsur aktif kenyataan metafisik, seperti yang dianut oleh: Theisme, absolutisme, realisme. [26]

D. Pengertian Ilmu

Pengertian ilmu sepanjang yang terdapat dalam pustaka menunjuk pada sekurang-kurangnya tiga hal, yaitu:

1.      Ilmu sebagai Pengetahuan

Ilmu adalah kumpulan- kumpulan ayang disususn secara sistematis dari pengetahuan yang dihimpun tentang alam semesta yang melulu diperoleh melalui teknik-teknik pengamatan yang objektif.

2.      Ilmu sebagai Proses atau aktivitas

Ilmu merupakan proses penyelidikan yang berlangsung terus menerus.

3.      Ilmu sebagai metode

Ilmu adalah istilah yang dipergunakan untuk menyebut seatu metode guna memperoleh pengetahuan yang objektif dan dapat diperiksa kebenarannya.[27]

Kesatuan dan interaksi diantara aktivitas, metode dan pengetahuan yang boleh dikatakan menyusun diri menjadi ilmu dapatlah digambarkan dalam suatu bagan segitiga sebagai berikut:

METODE

PENGETAHUAN

Pemahan ilmu sebagai aktivitas, metode, dan pengetahuan dapat digambarkan sebagai berikut:

E. Pengertian Filsafat Ilmu

Ada beberapa pengertian tentang filsafat ilmu:

1.      Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secra sepesifik mengkaji hakikat ilmu (Pengetahuan Ilmiah).[28]

2.      Studi tentang metode, asumsi dan batas-batas ilmu pengetahuan.[29]

3.      Penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya.[30]

F. Substansi Telaah Filsafat Ilmu

Setidaknya ada empat substansi filsafat ilmu. Pertama tentang kenyataan, kedua tentang kebenaran, ketiga tentang tingkat kepastian, keempat tentang logika infrensi.

1.      Kenyataan atau Fakta

Bagi positivistik, yang nyata itu yang faktual ada, bagi rasionalistik, yang nyata ada itu yang ada dan cocok dengan akal, bagi realisme yang nyata itu yang riil exist dan terkonstruk dalam kebenaran obyektif, sedangkan bagi pendekatan phenomenologik, kenyataan itu terkonstruk dalam moral.

2.      Kebenaran

Bagi positivistivisme sesuatu itu benar bila ada korespodensi antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Bagi phenomenologi, phenomena baru dapat dinyatakan benar setalah diuji korespodensinyadengan yang dipercayakan. Realisme metafisik poper mengakui kebenaran bila ada faktual itu koheren dengan kebenaran objek unversal.sedangkan pragmatis mengakui kebenaran bial faktual berfungsi.

3.      Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang, atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut ditampilkan sebagai konfirmasi absolut atau probabilistik. Menampilkan konfirmasi absolut biasanya menggunakan landasan asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar.[31]

4.      Logika Infrensi[32]

Studi tentang tipe-tipe tata fikir. Logika Sintak dan Semantik berupaya untuk mempelajari fungsi kata, fungsi kalimat, dan pencarian makna. Logika konseptualisasi tradisional, logika tidak lain dari pada studi tentang relasi formal dan jenis.[33]

G. Cabang-Cabang Utama Filsafat Ilmu

1.      Ontologi

Objek telaahnya adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi pada filsafat umumnya dilakukan oleh filsafat methafisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.[34] Sedangkan metode pembuktian dibedakan menjadi dua yaitu: pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.

Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat, dan kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologik term tengah ada setelah sesudah realitas kesimpulan, term tengah menunjukan akibat realitas yang dinyatakan dalma kesimpulan.[35] Secara umum a priori dikenal dengan cara berfikir dan car pembuktian deduktif, sedangkan empiri sebagai konsekuensi, dan a posteriori dikenal dengan cara berfikir dan cara membuat kesimpulan yang mendasarkan pada empiri.

2.      Epistimologi

Epistimologi ini dapat digolongkan ke dalam empat bagian. Pertama ke epistimologi subyetif, kedua epistimologi pragmatik, ketiga, epitomologi moral dan yang keempat epitimologi relegius. [36] Kebenran-kebenaran yang ditampilkan berupa tesis atau teori yang bersifat kondisional.

3.      Aksiologi

Ada empat jenis value. Pertama, value sensual, dalam tampilan seperti menyanangkan dan tak menyenangkan. Kedua, nilai hidup, seperti edel (agung) atau gemein (biasa). Ketiga, nilai kejiwaan, nilai aetetis, nilai benar-salah, dan nilai intrinstik ilmu. Keempat, nilai relegius, seperti suci, yang sakral.

H. Objek Material dan Formal Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu sebagaimana halnya dengan bidang ilmu yang lain, juga memiliki objek material dan objek formalnya sendiri.

1.      Objek material atau pokok bahasan filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu ilmu yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu. Sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.

2.      Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan. Artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar ilmu pengetahuan,[37] seperti: apa hakikat ilmu itu sesungguhnya? Bagaimana memperoleh kebenaran ilmiah? Apa fungsi ilmu pengetahuan itu bagi manusia?

I. Tujuan dan Implikasi Filsafat Ilmu

1.      Tujuan filsafat ilmu

a.    Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah.

b.    Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan.

c.    Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah yang dikembangkan harus dapat dipertangung jawabkan secara logis-rasioanal, agar dapat dipahami dan dipergunakan secara umum.[38]

J. Implikasi Mempelajari Filsafat Ilmu

1.      Bagi seorang yang mempelajari filsafat ilmu diperlukan pengetahuan dasar yang memadai tentang ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, supaya ilmuan memiliki landasan berpijak yang kuat. Ini berarti ilmuan sosial perlu mempelajari ilmu-ilmu kealama secara garis besar, demikian pula sebaliknya. Sehingga antara ilmu satu dan ilmu lainnya saling menyapa. Bahkan dimungkinkan terjalinnya kerja sama yang harmonis untuk memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan.

2.      Menyadarkan ilmuan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading” yakni hanya berfikir murni dalam bidangnya tanpa mengaitkan dengan kenyataan yang ada diluar dirinya. Padhal setiap aktivitas keilmuan nyaris tidak dapat dilepaskan dari konteks kehidupan sosial masyarakat.[39]

K. Priodesasi Perkembangan Filsafat dan Ilmu

Untuk priodesasi perkembangan filsafat dan ilmu pemakalah meringkas menjadi point-point saja, yaitu:

1.      Pra Yunani Kuno (Abad 15 SM-6 SM)

a.    Pengetahuan berdasarkan pengalaman langsung

b.    Pengetahuan berhubungan dengan kekuatan magis

c.    Fenomena alam dijelaskan dengan mitologi

2.      Yunani Kuno (Abad 6 SM-6M)

a.    Munculnya sikap kritis dan logis

b.   Bebas mengemukakan ide

c.    Fenomena alam dijelaskan dengan rasional

d.   Filsafat identik dengan ilmu

3.      Abad Pertengahan (Abad 6 M-14 M)

a.    Dominasi teologi (gereja) atas filsafat/ ilmu

b.   Temuan ilmiah diakui selama tidak bertentangan dangan dogma gereja

c.    Tidak bebas mengemukakan ide

4.      Renaissan (Abad 14 M-16M)

a.    Kelahiran kembali kebebasan berfikir

b.   Sekuralisme ilmu, pemisah antara agam dan ilmu

5.      Modern (Abad 17 M-19 M)

a.    Ilmu memisahkan diri dari filsafat

b.   Ilmu alam maju pesat

c.    Ilmu pasti (matematika) sebagai basis ilmu-ilmu

6.      Kontemporer

a.    Ilmu-ilmu spesialis berkembang pesat

b.   Teknologi sebagai aplikasi ilmu berkembang pesat

c.    Filsafat sebagai ilmu interdisipliner[40]


7.

BAB III

KESIMPULAN

Ketiga bidang utama filsafat, metafisika (khusunya ontologi), epistimologi dan aksiologi merupakan landasan pengembangan ilmu pengetahuan. Landasan ontologi ilmu berkaitan dengan hakikat ilmu, ilmu mengkaji realitas sebagaimana adanya. Landasan epistimologis ilme berkaitan dengan aspek-aspek metodolegis ilmu dan saran berfikir ilmiah lainnya. Sedangkan landasan aksiologis ilmu berkaitan dengan dampak ilmu bagi manusia.

Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti:

ü  Obyek apa yang ditelaah ilmu ? (Ontologis)

ü  Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan berupa ilmu? (epistemologis)

ü  Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu digunakan ? (aksiologis)

Filsafat ilmu sebagaimana halnya dengan bidang-bidang yang lain, juga memiliki objek material dan objek formalnya sendiri. Objek materialnya atau pokok bahasan filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu. Sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.  Filsafat ilmu diperlukan kehadirannya ditengah-tengah perkembangan iptek yang ditandai semakin menajamnya spesialisasi ilmu pengetahuan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmu, maka kita akan menyadari keterbatasan diri kita dan tidak terperangkap ke dalam sikap arogansi intlektual.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Theles Sampai Capra, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005

Beerling, Kwee, Mooij Van Peursen, Pengentar Filsafat Ilmu, terjemahan, Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2003

Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Kanisius,1996

Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1984

Mark B. Wood House, Berfilsafat: Sebuah Langkah Awal, terjemahan, Yogyakarta:Kanisius, 2000

Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu; Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998

Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009

The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta:Liberty, 2007


[13] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius,1996), hal. 14

[14] Ibid, hal. 15

[15] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum:Akal dan Hati Sejak Theles Sampai Capra, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hal. 18

[16] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, hal. 21-24

[17] Ibid,hal. 44-51

[18] Metafisik umum atau ontologi adalah membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan itu dilakukan dengan membedakan dan memisahkan eksistensi yang sesungguhnya dari penampakan atau penampilan dari eksistensi itu.( Ibid, hal.45)

[19] Filsafat Antropologi adalah bagian dari metafisika khusus yang mempersoalkan apakah manusia itu?apakah hakikat manusia? Bagaimanakah hubungannya dengan alam dan sesamanya? dengan kata lain, filsafat antropologi berupaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagaimana adanya, baik menyangkut esensi, eksistensi, status, maupun relasi-relasinya.(Ibid, hal. 50)

[20] Kosmologi adalah percakapan tentang dunia atau alam dan ketertiban yang paling fundamental dari seluruh realitas. Kosmologi memandang alam sebagai suatu totalitas dari fenomena dan berupaya untuk memadukan spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah dalam suatu kerangka yang koheren. Hal-hal yang biasa disoroti ialah mengenai ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan, dan keabadian.(Ibid,, hal.46)

[21] Teologi Metafisik mempersoalkan eksistensi yang dibahas secara terlepas dari kepercayaan agama. Allah menjadi sistem filsafat yang perlu dianalisis dan dipecahkan lewat metode ilmiah.(Ibid, hal.47)

[22] Ibid, hal. 37

[23] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum:Akal dan Hati Sejak Theles Sampai Capra, hal. 23

[24] Ibid, hal. 24-28

[25] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 26

[26] Ibid, hal. 27-28

[27] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 2007), hal. 86-88

[28]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Sinar Harapan, 1984), hal.33

[29]Mark B. Wood House, Berfilsafat: Sebuah Langkah Awal, terjemahan, (Yogyakarta:Kanisius, 2000), hal.35

[30]Beerling, Kwee, Mooij Van Peursen, Pengentar Filsafat Ilmu, terjemahan, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2003), hal. 1

[31]Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu; Telaah Sistematis Fungsional Komparatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1998), hal. 9-11

[32]Infrensi dapat diterjemahkan dengan kata ramalan atau prediksi (Lihat Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu, hal. 5)

[33] Ibid, hal. 19

[34] Ibid, hal. 49

[35] Ibid, hal.50

[36]Epistimologi subyektif memberikan implikasi pada standar rasional tentang hal-hal yang diyakini. Menggunakan standar rasional berarti bahwa sesuatu yang diyakini sebagai benar itu tentunya memiliki sifat reabel, ajeg. Bila ajeg sebagai standar maka para reabilis itu pada hakikatnya adalah obyektivis. Sebaliknya karena yang diyakini benar tersebut perlu terolah secara reflektif maka sifatnya kembali subyektif. Epistimologi pragmatik, pencarian yang kekal hendaknya diganti dengan pencermatan realistik mengkeritik ide palsu, diganti dengan pencermatan eksperimental dan empirik, menggunakan mean mencari ends untuk selanjutanya ends mencari means. Epistimologi moral, menelaah evaluasi estimik tentang keputusan moral dan teori-teori moral. Epistimologi relegius, berkembang pada dataran relegius sehari-hari, dan berupaya untuk membuat penafsiran kitab suci untuk memperoleh tuntunan terpercaya, sementara itu ada pula yang memfokuskan pada eksistensi Tuhan, penciptaan alam semesta, dan kerasulan. (Ibid, hal. 54-55)

[37]Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat ilmu, hal. 44 – 45

[38] Ibid, hal. 51-52

[39] Ibid, hal. 53

[40] Baca Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat ilmu, hal. 126-135

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

pembaharuan pendidikan muhammad abduh

BAB I

PENDAHULUAN

Tercatat beberapa nama ulama besar yang berperan sebagai pembaharu bidang pendidikan Islam yang muncul di Timur Tengah, seperti Muhammad Ali Pasya, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dari Mesir. Kemudian tercatat nama Muhammad Iqbal dari India dan sebagainya. Pada masa kemunduran Islam abad 13-18, segala warisan filsafat dan ilmu pengetahuan diperoleh Eropa dari Islam, ketika umat Islam larut dalam kegemilangan sehingga tidak memperhatikan lagi pendidikan, maka Eropa tampil mencuri ilmu pengetahuan dan belajar dari Islam. Eropa kemudian bangkit dan Islam mulai dijajah dan mengalami kemunduran. Hampir seluruh wilayah dunia Islam dijajah oleh Bangsa Eropa termasuk di Mesir. Penemuan-penemuan baru dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi muncul di Eropa.

Dalam membuka mata kaum muslimin akan kelemahan dan keterbelakangannya, sehingga akhirnya timbul berbagai macam usaha pembaharuan dalam segala bidang kehidupan, untuk mengejar ketertinggalan dan keterbelakangan, termasuk usaha-usaha di bidang pendidikan. khususnya di Mesir di masa Muhammad Abduh ketika pemerintahan dipegang khadif Taufiq Pasya dan Inggris menghadapi dua aliran manusia. Yang pertama kelompok pembaharuan yang ingin melakukan pembaharuan sedikit demi sedikit, mereka melihat agenda perbaikan umat pertama-tama untuk meratakan pendidikan di kalangan bangsa agar mereka tau tentang hak dan kewajiban mereka. Adapun kelompok yang kedua adalah kelompok yang ingin mengadakan perbaikan dengan cepat, intinya adalah orang-orang yang belajar di Eropa sebagai mahasiswa non pemerintah. Dan Abduh termasuk golongan pertama yang menarik untuk dibahas sebagai fokus kajian pada makalah ini, yakni pembaharuan pendidikan yang dipelopori oleh Muhammad Abduh.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Pemikiran Muhammad Abduh

Muhammad Abduh dilahirkan tahun 1849 H/1266 M di salah satu Delta Mesir bagian hilir. Ayahnya seorang petani keturunan Turki yang telah lama menetap di Mesir dan ibunya keturunan Arab.[1] Muhammad  Abduh dilahirkan dan dibesarkan dan hidup dalam masyarakat yang sedang disentuh oleh perkembangan-perkembangan dasar di Eropa. Sayyid Quthub sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab, dalam bukunya yang berjudul Studi Kritis Tafsir Al-Manar Karya Muhammad Abduh dan M. Rasyid Ridha,  memberikan gambaran singkat mengenai masyarakat tersebut yakni ”suatu masyarakat yang beku, kaku, menutup rapat pintu ijtihad, mengabaikan peranan akal dalam memahami sari’at Allah atau mengistinbatkan hukum-hukum karena mereka telah merasa berkecukupan dengan hasil karya para pendahulu mereka yang juga hidup dalam masa kebekuan akal (jumud) serta yang berlandaskan khurofat”. Sementara itu di Eropa hidup suatu masyarakat yang mendewakan akal, khususnya setelah penemuan-penemuan ilmiah yang sangat mengagumkan ketika itu.[2]

Keadaan masyarakat Eropa tersebut sesungguhnya telah menanamkan benih pengaruhnya sejak kedatangan ekspedisi prancis (Napoleon) ke Mesir pada tahu 1798. Namun secara jelas tumbuhnya benih-benih tersebut mulai dirasakan Muhammad Abduh pada saat ia memasuki pintu gerbang Al-Azhar. Waktu itu, lembaga pendidikan tersebut para pembina dan ulamanya telah terbagi kedalam dua kelompok., mayoritas dan minoritas. Kelompok pertama menganut pola taqlid, yakni mengajarkan kepada siswa bahwa pendapat-pendapat ulama terdahulu hanya sekedar dihapal, tanpa mengantarkan pada usaha penelitian, perbandingan dan pentarjihan. Sedangkan kelompok kedua menganut pola tajdid (pembaharu) yang menitik beratkan uraian-uraian mereka ke arah penalaran dan pengembangan rasa.[3]

Berkat pengetahuan Abduh tentang ilmu tasawuf serta dorongan Syekh Darwisy agar ia selalu mempelajari berbagai bidang ilmu, yang diterimanya ketika usia muda dulu, maka tidak mengherankan jika naluri Abduh yang didukung Syaikh tersebut membuat Abduh lebih condong untuk berpihak kepada kelompok minoritas yang ketika itu dipelopori oleh  Syekh Hasan Al -Thawil yang telah mengajarkan filsafat dan logika jauh sebelum Al-Azhar mengenalnya. Pada sisi lain pertemuan Abduh dengan Al-Afgani menjadikan Abduh aktif dalam berbagai bidang sosial dan politik, dan kemudian mengantarkannya untuk bertempat tinggal di Paris, menguasai bahasa Prancis, menghayati kehidupan masyarakatnya, serta berkomonikasi dengan pemikir-pemikir Eropa ketika itu.[4]

B. Corak Pemikiran Muhammad Abduh

1.    Moderenisasi[5]

Sebagaimana yang telah disinggung pada latar belakang pemikiran Muhammad Abduh, bahwa semenjak perjumpaannya dengan Al- Afgani, Abduh berusaha mengadakan penyesuaian ajaran Islam dengan tuntutan zaman, seperti penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Gagasan penyesuaian inilah kemudian disebut dengan moderniasasi. Sumber dari gagasan moderenisasi Abduh tersebut bersumber dari penentangannya terhadap taqlid. Menurut Muhammad Abduh, Al-Qur’an  memerintahkan kepada ummatnya untuk menggunakan akal sehat mereka, serta melarangnya mengikuti pendapat-pendapat terdahulu tanpa mengikuti secara pasti hujah-hujah yang menguatkan pendapat tersebut, walaupun pendapat itu dikemukakan oleh orang yang seyogyanya paling dihormati dan dipercaya. Abduh menetapkan tiga hal yang menjadi kritrea perbuatan taqlid ini, ketiga kriteria tersebut adalah:

a.    Sangat mengagung-agungkan para leluhur dan para guru mereka secara berlebihan.

b.    Mengiktikadkan agungnya pemuka-pemuka agama yang silam, seolah-olah telah mencapai kesempurnaan.

c.    Takut dibenci orang dan dikritik bila ia melepaskan fikirannya serta melatih dirinya untuk berpegang kepada apa yang dianggap benar secara mutlak.

Berdasarkan pada pandangan tersebut, Abduh memahami Alqur’an, terutama yang berkaitan denga kecaman terhadap sikap dan perbuatan taqlid tersebut, walaupun menyangkut sikap kaum musrikin. Selanjutnya ia mengecam kaum muslimin, khususnya yang berpengetahuan yang mengikuti pendapat ulama-ulama terdahulu tanpa memperhatikan hujahnya.

Berkaitan dengan modernisasi ini, Rahman memberikan pernyataan bahwa seorang modernis biasanya memiliki beberapa ciri, diantaranya selalu berusaha menghadapi segala situasi dengan penuh keyakinan serta keberanian, dan gerakannya bersifat kerakyatan, serta senantiasa melibatkan pemikiran pribadi. Kemudian kaum modernis yang telah menjadikan reformasi sebagai tolak ukurnya adalah mereka yang berusaha menciptakan ikatan-ikatan positif antara pemikiran Qur’ani dengan pemikiran modern.[6] Perpaduan antara kedua pemikiran ini telah melahirkan beberapa lembaga sosial dan moral modern dengan berorientasi pada Alqur’an.

Muhammad Abduh menyikapi peradaban Barat modern dengan selektif dan kritis. Dia senantiasa menggunakan prinsip ijtihad sebagai metode utama untuk meretas kebekuan pemikiran kaum muslimin. Abduh tidak pernah berfikir, apalagi berusaha untuk mengambil alih secara utuh segala yang datang dari dunia Barat. Karena ia beranggapan apa bila itu dilakukan berarti mengubah taqlid yang lama dengan taqlid yang baru, juga karena hal tersebut tidak akan berguna, disebabkan adanya perbedaan-perbedaan pemikiran dan struktur sosial masyarakat masing-masing daerah.[7] Islam menurut Abduh “harus mampu meluruskan kepincangan-kepincangan perbedaan barat serta membersihkan dari segi-segi negatif yang menyertainya. Dengan demikian, perbedaan tersebut pada akhirnya, akan menjadi pendukung terkuat ajaran Islam, sesaat setelah ia mengenalnya dan dikenal oleh pemeluk-pemeluk Islam.[8]

2.    Reformis

Muhammad Abduh Adalah seorang pembaharu yang corak pembaharuannya bersifat reformistik-rekonsturktif. Ini dikarenakan Muhammad Abduh senantiasa melihat tradisi dengan perpektif membangun kembali. Agar tradisi suatu masyarakat dapat survive dan terus diterima, ia harus dibangun kembali. Pembangunan kembali ini tentunya dengan kerangka modern dan prasyarat rasional. Pemikiran pembaharuan yang bercorak reformistik dalam bentuknya yang pertama secara filosofis.[9]

3.    Konservatif

Gerakan pembaharuan yang diinagurasikan Muhammad Abduh bersifat konservatif, hal ini terlihat dari sikap Muhammad Abduh yang tidak bermaksud mengubah potret diri Islam. Risalah Tauhid merupakan bukti dari pemikiran ini. Muhammad Abduh dalam karya ini berupaya menegaskan kembali potret diri Islam yang telah mencapai finalitas dan keunggulan.[10]

Demikianlah muncul ke permukaan ketiga tipologi pemikiran, yaitu modernis, reformis, konservatif, yang dilontarkan berkaitan dengan pembaharuan yang dilakukan Muhammad Abduh. Ketiganya merupakan refleksi dalam membaca segala pemikiran Muhammad Abduh. Dalam pembacaan itu corak pertama lebih menekankan pada aspek slektifitas dan sikap kritis Muhammad Abduh dalam menyikapi dan memandang peradaban barat. Corak kedua lebih menekankan kepada upaya Muhammad Abduh dalam membangun kembali tradisi Islam secara rekonstruktif. Sedangkan corak yang ketiga memfokuskan bacaannya kepada upaya Muhammad Abduh dalam membela Islam melalui finalitas dan keunggulan Islam.

C. Inti Pemikiran Muhammad Abduh

1.  Membebaskan pikiran dari ikatan taqlid dan memahami agama seperti kaum salaf sebelum timbulnya pertentangan-pertentangan dan kembali dalam mencari pengetahuan agama kepada sumbernya yang pertama dan mempertimbangkan dalam lingkungan timbangan akal yang diberikan Allah SWT untuk mencari keseimbangan dan mengurangi kecampuradukan dan kesalahan. Dengan cara ini orang dianggap sebagai sahabat ilmu yang bergerak untuk meneliti rahasia-rahasia alam, mengajak menghormati kebenaran dan untuk berpegang kepada pendidikan jiwa dan perbaikan amal.

2.  Memperbaiki bahasa arab dan susunan kata, baik dalam percakapan resmi atau dalam surat menyurat antar manusia.

3.  Pembaharuan di bidang politik, ini dilakukannya di Majlis Syura sejak ia dipilih menjadi anggota majelis itu.[11]

Kita melihat di sini agenda pembaharuan dibidang bahasa, politik, dan akidah dan tunutunan umum. Dan dalam semua sisi itu, Abduh mengemukakan kritik yang membangun. Sedangkan inti seluruhnya adalah pendidikan Islam. Ia melihat bahwa rusaknya masyarakat Islam karena salahnya pendidikan.[12]

D. Aggenda Pembaharuan Muhammad Abduh

1.    Purifikasi

Purifikasi atau pemurnian ajaran islam telah mendapat tekanan serius dari Muhammad Abduh berkaitan dengan munculnya bid’ah dan khurafah yang masuk dalam kehidupan beragama kaum muslimin.

2.    Reformasi

Dengan agenda reformasinya, Muhammad Abduh berambisi untuk melenyapkan sistem dualisme dalam pendidikan di Mesir. Dia menawarkan kepada sekolah modern agar menaruh perhatian pada aspek agama dan moral. Dengan mengandalkan aspek intelektual saja sekolah modern hanya akan melahirkan pendidikan yang merosot moralnya.[13] Sedangkan kepada sekolah agama, seperti Al-Azhar, Muhammad Abduh menyarankan agar dirombak menjadi lembaga pendidikan yang mengikuti sistem pendidikan modern. Sebagai pionirnya, ia telah memperkenalkan ilmu-ilmu Barat kepada Al-Azhar, disamping tetap menghidupkan ilmu-ilmu Islam klasik yang orisinil, seperti Muqodimah karya Ibnu Khaldun.[14]

Reformasi pendidikan tinggi Islam difokuskan Muhammad Abduh pada Universitas almamaternya, Al-Azhar. Muhammad Abduh menyatakan bahwa kewajiban belajar itu tidak hanya mempelajari buku-buku kelasik berbahasa Arab yang berisi dogma ilmu kalam untuk membela Islam. Akan tetapi kewajiban belajar juga terletak pada mempelajari sains-sains modern, serta sejarah dan agama Eropa, agar diketahui sebab-sebab kemajuan yang telah mereka capai. Usaha awal reformasi Muhammad Abduh adalah memperjuangkan matakuliah filsafat agar diajarkan di Al-Azhar. Dengan belajar filsafat, semangat intlektualisme Islam yang padam diharapkan hidup kembali.

3.    Pembelaan Islam

Muhammad Abduh lewat Risalah Al-Tauhidny tetap mempertahankan potret diri Islam. Hasratnya untuk menghilangkan unsur-unsur asing merupakan bukti ia tetap yakin dengan kemandirian Islam. Muhammad Abduh berusaha mempertahankan potret Islam dengan dengan menegaskan bahwa jika pikiran dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Hasil yang dicapainya otomatis akan selaras dengan kebenaran Illahi yang dipelajari melalui agama.

4.    Reformulasi

Agenda reformulasi tersebut dilaksanakan Muhammad Abduh dengan cara membuka kembali pintu ijtihad. Menurutnya, kemunduran kaum muslim disebabkan oleh dua faktor, yaitu internal dan ekternal. Muhammad Abduh dengan reformulasinya menegaskan bahwa Islam telah membangkitkan akal pikiran manusia dari tidur panjangnya.[15]

E. Pemikiran Muhammad Abduh di Bidang Pendidikan

1.    Perlawanan terhadap taqlid dan kemadzahaban

2.    Perlawanan terhadap buku-buku yang tendensius, untuk diperbaiki dan disesuaikan dengan pemikiran rasional dan historis.

3.    Reformasi Al-Azhar yang merupakan jantung umat Islam, jika ia rusak maka rusaklah umat dan jika baik maka baiklah umat.

4.    Menghidupkan kembali buku-buku lama untuk mengenal intelektualisme Islam yang ada dalam sejarah ummatnya, serta mengikuti pendapat-pendapat yang benar disesuaikan dengan kondisi yang ada.[16]

Menurut Muhammad Abduh terpecahnya ummat Islam menjadi beberapa golongan disebabkan oleh kelemahan mereka sebagai satu ummat yang kuat, dan itu terjadi karena adanya fanatisme terhadap suatu madzhab. Banyaknya aliran madzhab pemikiran atau keyakinan, sebenarnya, bukanlah bahaya yang menghancurkan satu ummat, tapi yang bahaya adalah berhukum dan tunduk kepada aliran tersebut, sehingga pengikutnya tidak berani mengemukakan kritik atau pendapat lain. Ketika itu satu jamaah akan menjadi beberapa jamaah, suku dan golongan yang terpisah-pisah yang tidak memiliki satu arah dan tujuan, pemisah itulah fanatisme buta.[17]

F. Peran Penting Muhammad Abduh Dalam Pendidikan:

1.     Menerjemahkan buku pendidikan ke dalam bahasa Arab[18]

2.     Menjadi anggota Majelis Urusan Al-Azhar[19]

3.     Anggota Majelis Tinggi Pendidikan[20]

4.     Penggerak Al-jami’ah al-Khariyah al-Islamiyah[21] (Himpunan sosial Islam).

G. Pembaharuan di Bidang Pendidikan.

Rashid Ridho sebagaimana yang dikutip oleh Toto Suharto menyatakan bahwa pendidikan bagi Muhammad Abduh bertujuan “mendidik akal dan jiwa serta mengembangkannya hingga batas-batas yang memungkinkan anak didik mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat”.[22]

Dari tujuan pendidikan di atas Muhammad Abduh nampaknya berkeinginan agar proses pendidikan dapat membentuk keperibadian Muslim yang seimbang antara jasmani dan rohani serta intlektualitas dan moralitas. Jadi pendidikan bukan hanya pengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tapi juga harus menyelaraskan dengan aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan). Pendidikan seyogyanya dapat memerhatikan segi material dan spritual sekaligus. Pandangan ini merupakan kritiknya terhadap situasi dan aktivitas pendidikan di Mesir pada waktu itu, di mana pendidikan hanya menekankan pengembangan salah satu aspek saja dengan mengabaikan aspek lainnya.

Ada beberapa faktor yang mendorong Abduh untuk mengadakan pembaharuan terhadap sistem pendidikan saat itu, faktor-faktor itu adalah: pertama Abduh mendapat inspirasi gerakan islah Sayid Jamaluddin Al-Afghani yang menjurus ke arah mewujudkan integrasi ilmu, kedua kesadaran Syeikh Muhammad Abduh terhadap keperluan kepada islah dalam kurikulum sekolah dan universitas yang sudah ketinggalan zaman, ketiga sistem pendidikan masa itu menjurus ke arah taqlid buta dan pasif (jumud), keempat kekurangan prasarana pendidikan serta bantuan dari kerajaan Mesir kepada golongan miskin, dan yang terkahir kadar gaji guru yang rendah.[23] Itulah bebarapa faktor yang mendorong Abduh untuk melakukan pembaharuan dalam sistem pendidikan Islam. Adapun pembaharuan pendidikan yang dilakukan Muhammad Abduh tidak hanya di Mesir, Di sini pemakalah mencoba membahas pembaharuan pendidikan yang dilakukan Abduh di Beirut dan di Mesir.

1.    Pembaharuan Pendidikan di Beirut

Di Beirut Muhammad Abduh menjadi guru dan mengarang dan mengajar. Ia memberi syarah (tafsir) mengajar tafsir Alqur’an di dua masjid yang ada di Beirut dengan cara yang pernah ia perkenalkan di mesir yaitu tidak terikat dengan sesuatu kitab tafsir tertentu. Ia membaca suatu ayat lalu ia beri tafsir, baik ia ambil dari kitab-kitab lainnya atau tidak, lalu dihubungkan dengan menerangkan keadaan umat Islam dan kritik terhadap mereka sebagaimana yang diilhami oleh ayat yang ia baca.[24]

Muhammad Abduh diminta untuk mengajar di Madrasah Al-Sultaniyah di Beirut. Kurikulumnya diperbaiki dan meningkatkan pelajaran di madrasah itu, hingga dengan demikian madrasah itu meningkat dari madrasah tingkat rendah menjadi madrasah tingkat tinggi. Di Beirut ini ia mengajar tauhid, mantiq, balaghah, sejarah Islam dan rumahnya dipergunakan tempat pertemuan ilmiah, sastra dan lain-lainnya.[25]

Selanjutnya ia menaruh perhatian untuk perbaikan umum  bagi dunia Islam. Ia mengajukan dua usul untuk perbaikan pendidikan agama di madrasah-madrasah kerajaan Ustmaniyah, dalam usulannya Muhammad Abduh melihat kelemahan umat Islam disebabkan karena buruknya aqidah dan bodohnya akar-akar agama, itulah yang merusak  akhlak mereka. Obat satu-satunya adalah memperbaiki pendidikan agama. Kemudian yang kedua yang diajukan kepada gubernur Beirut, Muhammad Abduh menggambarkan buruknya keadaan negeri itu, dan pertentangan politik yang ada di negeri itu akibat banyaknya sekolah-sekolah asing. Abduh menganjurkan memperbanyak madrasah nasional dan memperbaiki kurikulum pendidikan agama.[26]

2.    Pembaharuan Pendidikan di Mesir

Usaha praktis yang dilakukan Abduh dalam mewujudkan gagasan pembaharuannya adalah lewat Universitas Al-Azhar. Di perguruan ini seluruh kurikulum pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan saat itu. Begitu juga ilmu-ilmu filsafat dan logika yang sebelumnya tidak diajarkan, di masa Abduh diajarkan dipelajari dan dihidupkan kembali, begitu juga dengan ilmu-ilmu umum perlu dijadikan perbendaharaan bagi lulusan-lusannya yang tentu saja diharapkan menjadi ulama modern.

Mulai dari sekolah SD yang selama ini kurang mendapat perhatian, tidak lepas dari sorotan Abduh, sekolah tingkat dasar hendaknya menjadikan mata pelajaran agama sebagai inti dari semua mata pelajaran. Karena agama dianggap sebagai dasar pembentukan jiwa dan keperibadian muslim. Abduh juga mendirikan sekolah-sekolah pemerintah yang telah didirikan untuk mendidik tenaga-tenaga yang perlu bagi mesir dalam lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, pendidikan dan sebagainya.[27]

Kedalam sekolah-sekolah di atas, ia berpendapat perlu dimasukan didikan agama yang lebih kuat, termasuk dalamnya sejarah Islam dan sejarah Kebudayaan Islam.  Atas usahanyalah didirikanlah Majlis Perguruan Tinggi. Muhammad Abduh melihat bahaya yang akan timbul dari sistem dualisme dalam pendidikan. Sistem madrasah lama akan mengeluarkan ulama-ulama yang tak ada pengetahuannya tentang ilmu-ilmu modern, sedangkan sekolah-sekolah pemerintah akan mengeluarkan ahli-ahli yang sedikit pengetahuannya tentang agama. Dengan memperkuat didikan agama disekolah-sekolah pemerintah jurang yang memisahkan golongan ulama dari golongan modern dapat diperkecil.[28]

Selain itu Abduh menyoroti keadaan dan sistem pendidikan, ia menata kembali seluruh struktur pendidikan yang berlaku di Al-Azhar, dari mulai metode pengajaran ia membawa cara baru dalam dunia pendidikan saat itu. Ia mengkritik tajam penerapan metode hafalan tanpa pengertian yang umumnya dipraktikan di sekolah-sekolah saat itu, terutama sekolah agama.[29] Abduh menghidupkan metode munazarah dalam memahami pengetahuan,[30] yang sebelumnya mengarah kepada taqlid semata terhadap pendapat ulama yang berpengaruh. Bahasa Arab yang selama ini menjadi bahasa baku tanpa perkembangan, oleh Abduh dikembangkan dengan jalan menerjemahkan teks-teks pengetahuan modern ke dalam bahasa Arab, terutama isltilah-istilah baru muncul yang mungkin tidak ditemukan pada kosa kata bahasa arab.[31]Abduh melakukan perbaikan menganai honorium dosen dan pengaturannya.  Memberikan tunjangan untuk pakaian dinas, asrama mahasiswa, perbaikan kesehatan mahasiswa dan ujian.[32]

BAB III

KESIMPULAN

Ide-ide yang dibawa oleh Syeikh Muhammad Abduh telah mengubah pandangan umat Islam terhadap Islam yang sering taqlid dengan sebagian sarjana Muslim yang jumud dan pasif. Syeikh Muhammad Abduh berjasa dalam memberi gambaran yang jelas tentang keperluan umat Islam kepada pembaharuan, khususnya dalam bidang pendidikan. Ide pembaharuan Syeikh Muhammad Abduh dalam bidang pendidikan, khususnya di Universitas Al-Azhar telah memberi kesan yang mendalam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umat Islam. Antara ide tersebut ialah: mewujudkan mata pelajaran matematik, geometri, algebra, geografi, dan sejarah, mewujudkan farmasi khusus untuk pelajar Universitas Al-Azhar, menyediakan gaji guru dari perbendaharaan negara dan waqaf negara, memperbaiki asrama pelajar dengan menekankan aspek-aspek keselamatan dan kesehatan, mengganti metode pengajaran yang bersifat hafalan kepada penalaran atau lebih dekat dengan diskusi.

DAFTAR PUSTAKA

Al Bahiy, Muhammad. Pemikiran Islam Modern, terj. Su’adi Sa’ad, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986

Ali, Mukti. Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, Jakarta: Djambatan, 1995

http://ms.wikipedia.org/wiki/Syeikh_Muhammad_Abduh#Faktor_melakukan_pengislahan dalam_sistem_pendidikan

Madjid, Nur Cholis. Islam Kemodernan Dan Keindonesiaan, Bandung: Mizan, 1989

Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rsullullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana, 2009

Rahman, Fazlur. Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intlektual, terj. Ashin Muhammad, Bandung: Pustaka, 1995

Sani, Abdul. Lintas Sejarah Pemikiran; Perkembangan Modern dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Peersada, 1998

Shihab, M. Quraish. Studi Kritis Tafsir Al-Manar Karya Muhammad Abduh dan M. Rasyid ridha, Bandung: Pustaka Hidayah, 1994

Suharto,Toto. Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Arruzz, 2006

Syar’i, Ahmad. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005


[1] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), hal. 108

[2] M. Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsir Al-Manar Karya Muhammad Abduh dan M. Rasyid Ridha, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), hlm. 17

[3] Ibid, hal. 15

[4] Ibid, hal. 18

[5] Modernisasi merupakan proses perombakan pola pikir dan tata kerja lama yang tidak rasional dan menggantinya dengan pola pikir dan tata kerja baru yang rasional. Nur Cholis Madjid, Islam Kemodernan Dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1989), hal. 172

[6] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Arruzz, 2006), hal. 258

[7] M. Qurais Shihab, Studi Kritis Tafsir Al Manar, hal. 19

[8] Ibid, hal. 20

[9] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, hal. 265

[10] Ibid, hal. 266

[11] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, (Jakarta: Djambatan, 1995), hal. 487 – 488

[12] Muhammad Al Bahiy, Pemikiran Islam Modern, terj. Su’adi Sa’ad, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986), hal. 95

[13] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intlektual, terj. Ashin Muhammad, (Bandung: Pustaka, 1995), hal. 70

[14] Ibid, hal. 77-78

[15] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rsullullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 246-247

[16] Muhammad Al Bahiy, Pemikiran Islam Modern, hal. 84

[17] Ibid, hal. 85

[18] Ibid, 471

[19]Atas usulan Abduh inilah maka didirikannya majelis urusan al-azhar yang dikonsentrasikan untuk perbaikan Al-Azhar, meskipun banyak pertentangan yang ia hadapi. Lihat Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, hal.  473

[20]Majelis ini muncul atau didirikan karena kritik Abduh terhadap Departemen Pendidikan. Ibid, hal. 447

[21]Himpunan ini dimaksudkan untuk menyiarkan pengajaran dan pendidikan dan membantu orang yang memerlukan. Lihat  Ibid, hal. 478

[22] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, hal. 276

[24] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, hal. 462

[25] Ibid, hal. 462

[26] Ibid, hal. 463

[27] Abdul Sani, Lintas Sejarah Pemikiran; Perkembangan Modern dalam Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Peersada, 1998), hal. 53

[28] Ibid, hal. 54

[29] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, hal. 250

[30] Abdul Sani, Lintas Sejarah Pemikiran, hal. 54

[31] Ibid, hal. 54

[32] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, hal. 475

Dipublikasi di artikel | Meninggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar